arfath
Just another Student Blogs UMM site
rss rss
rss buttons rss rss
12
Aug

Seniman topeng betawi Haji Bokir bin Dji’un meninggal dunia dalam usia 77 tahun pada hari Jumat (18/10). Informasi yang dihimpun dari keluarga almarhum menyebutkan, tokoh kesenian topeng betawi itu sekitar pukul 04.30 diketahui tidak sadarkan diri setelah keluar dari kamar mandi di rumahnya di Kampung Setu, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Bokir kemudian dibawa ke Rumah Sakit Pasar Rebo, Jakarta Timur, dan dinyatakan meninggal sekitar pukul 05.30. Jenazah dimakamkan siang kemarin setelah shalat Jumat di pemakaman Kampung Keramat, Cipayung, Jakarta Timur.
Bokir yang dilahirkan di Cisalak, Bogor, 25 Desember 1925, itu sebelumnya diketahui mengidap penyakit darah tinggi. Almarhum meninggalkan lima anak dan sembilan cucu. Dua istri Bokir telah meninggal dunia. Sampai akhir hayatnya, Bokir tinggal dengan istri ketiga bernama Namah.
Bokir dikenal sebagai tokoh kesenian topeng betawi. Ayah Bokir, Dji’un, dikenal sebagai pemain topeng betawi semasa kolonial. Bokir mulai bermain topeng betawi sekitar umur 13 tahun, diawali sebagai pemain kendang sampai rebab. Almarhum mendirikan dan memimpin kelompok topeng betawi Setia Warga sejak tahun 1960-an hingga akhir hayatnya. Pada awal tahun 1970-an Setia Warga dikenal publik sebagai kelompok lenong yang sering tampil di TVRI.
Pemain topeng betawi yang kemudian dikenal sebagai pemain sinetron, Mandra dan Omas, masih berstatus keponakan Bokir. Tokoh topeng betawi, seperti Bolot, Malih, Hajah Nori, pernah bermain dengan Setia Warga.
Terakhir, pada September lalu, Bokir dan kelompoknya bermain di sebuah hajatan perkawinan di Cilangkap. Mereka memainkan cerita Salah Denger yang-antara lain-didukung Bolot, Malih, dan Bodong. Sejumlah tokoh topeng betawi dan lenong turut mengantar jenazah Bokir, seperti Nasir, Omas, dan Hajah Nori.
Bokir pernah bermain pada sekitar 50-an film, termasuk film Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986) yang dibintangi Suzanna. Film yang disutradarai Sisworo Gautama Putra itu ditayangkan oleh RCTI pukul 13.00 bertepatan dengan hari wafat Bokir. Almarhum juga pernah tampil dalam sejumlah sinetron, di antaranya Fatimah, Koboi Kolot, dan Angkot Haji Imron. (XAR).KCM
klik Bokir – Kumpul Kebo1 untuk mendengar lenongnya si Bokir :D

Aug
Berikut beberapa tempat hangout di daerah Bekasi yang ramai di kunjungi orang :
1. Harapan Indah – Bekasi barat
2. Mutiara Gading Timur – Bekasi timur
3. Kemang Pratama – Bekasi timur
4. Regency – Bekasi timur
5. Galaxy – Bekasi timur
6. Wisma Jaya – Bekasi timur
7. Kalimalang – Bekasi timur
8. PUP (Pondok Ungu Permai) – Bekasi utara
9. PHP (Pondok Hijau Permai) – Bekasi Timur
10. Vila Asri – Bekasi timur
11. Grand Wisata – Bekasi timur
12. Dukuh Bima – Bekasi timur
13. Dukuh Jamrud – Bekasi timur
14. Rawalumbu – Bekasi timur
15. GOR Bekasi
tempat-tempat tersebut biasa ramai pada akhir pekan atau hari libur (terutama malam minggu)
untuk yang mau mengisi liburan tapi tidak punya tujuan boleh mencoba hangout di daerah yang telah disebut diatas
Untuk yang mau menambahkan silahkan ~
karena saya belum tau semua tempat nongkrong di bekasi
hanya sekedar share tempat-tempat yang saya ketahui
trims :)
10
Aug

http://youtu.be/BZyLN-9SIvc

Aug

bekasiSEJARAH KOTA BEKASI

Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 1950 terbentuklah Kabupaten Bekasi, dengan wilayah terdiri dari 4 kewedanaan, 13 kecamatan (termasuk Kec. Cibarusah) dan 95 desa. Angka-angka tersebut secara simbolis diungkapkan dalam lambang Kabupaten Bekasi dengan motto “SWATANTRA WIBAWA MUKTI”. Pada tahun 1960 kantor Kabupaten Bekasi berpindah dari Jatinegara ke Kota Bekasi (Jl. Ir. H Juanda). Kemudian pada tahun 1982, pada saat Bupati dijabat oleh Bapak H. Abdul Fatah gedung perkantoran Pemda Kabupaten Bekasi kembali dipindahkan ke Jl. A. Yani No.1 Bekasi.

Pesatnya perkembangan Kecamatan Bekasi menuntut dimekarkannya kecamatan Bekasi menjadi Kota Administratif Bekasi yang terdiri atas 4 kecamatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1981, yaitu kecamatan Bekasi Timur, Bekasi Selatan, Bekasi Barat, dan Bekasi Utara, yang seluruhnya meliputi 18 Kelurahan dan 8 desa. Peresmian Kota Administratif Bekasi dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 April 1982, dengan walikota pertama dijabat oleh Bapak H. Soedjono. Tahun 1988 Walikota Bekasi dijabat oleh Bapak Drs. Andi Sukardi hingga tahun 1991, kemudian digantikan oleh Bapak Drs. H Khailani AR hingga tahun 1997.

Pada perkembangannya Kota Administratif Bekasi terus bergerak dengan cepat. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan roda perekonomian yang semakin bergairah. Sehingga status kotif Bekasi pun kembali ditingkatkan menjadi Kotamadya (sekarang “Kota”) melalui Undang-undang Nomor 9 Tahun 1996.

Pejabat Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi saat itu adalah Drs. H. Khailani AR, selama satu tahun, selanjutnya berdasarkan hasil pemilihan terhitung mulai tanggal 23 Februari 1998 Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi definitif dijabat oleh Bapak Drs. H. Nonon Sonthanie.
Lambang Daerah Kota Bekasi

Melalui Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor : 01 Tahun 1998 disahkanlah lambang daerah Kota Bekasi. Lambang tersebut berbentuk perisai dengan warna dasar hijau muda dan biru langit yang berarti harapan masa depan dan keluasan wawasan serta jernih pikiran. Sesanti ” KOTA PATRIOT ” artinya adalah semangat pengabdian dalam perjuangan bangsa.
Lambang Kota Bekasi

Di dalam Lambang Daerah tersebut terdapat lukisan-lukisan yang merupakan unsur-unsur sebagai berikut :
a.

Bambu runcing berujung lima yang berdiri tegak dengan kokoh mempunyai 2 (dua) makna :

Melambangkan hubungan vertikal Mahluk dengan Khaliknya (Manusia dengan Tuhannya) yang mencerminkan masyarakat Bekasi yang religius.

Melambangkan semangat patriotisme rakyat Bekasidalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Bangsa dan Negara yang tidak kenal menyerah sehingga Bekasi menyandang predikat sebagai Kota Patriot.
b.

Perisai segi lima melambangkan ketahanan fisik dan mental masyarakat Bekasi dalam menghadapi segala macam ancaman, gangguan, halangan dan tantangan yang datang dari manapun juga terhadap kelangsungan hidup Bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
c.

Segi empat melambangkan Prasasti Perjuangan Kerawang Bekasi.
d.

Pilar Batas Wilayah.
e.

Padi dan Buah-buahan melambangkan jumlah Kecamatan dan Kelurahan / Desa pada saat membentuk Kota Bekasi.

Buah-buahan berjumlah 7 (tujuh) besar dan 1 (satu) kecil melambangkan 7 Kecamatan ; Pondok Gede, Jati Asih, Bantar Gebang, Bekasi Timur, Bekasi Selatan, Bekasi Barat dan Bekasi Utara serta 1 Kecamatan Pembantu ; Jati Sampurna.

Padi berjumlah 50 (lima puluh) butir melambangkan 50 Kelurahan / Desa.
f.

Tali Simpul berjumlah 10 (sepuluh) yang mengikat ujung tangkai padi dan buah-buahan melambangkan tanggal Hari Jadi, 3 (tiga) buah Anak Tangga penyangga Bambu Runcing melambangkan bulan Hari Jadi Kota Bekasi.
g.

Dua baris Gelombang Laut atau Riak Air melambangkan dinamika Masyarakat dan Pemerintah Daerah yang tidak akan pernah berhenti membangun Daerah dan Bangsanya.

Sedangkan warna-warna dalam Lambang Daerah mengandung makna sebagai berikut :

Kuning :

Kemuliaan dan menunjukkan daerah Pemukiman.

Biru Langit :

Keluasan wawasan dan kejernihan pikiran serta menunjukkan zone Industri.

Putih :

Kesucian perjuangan.

Merah :

Keberanian untuk berkorban serta menunjukkan daerah Pertanian dan Hortikultura.

Hijau Muda :

Harapan masa depan serta menunjukkan daerah Pertanian dan Hortikultura

Hitam :

Ketegaran patriot sejati.

Aug

Welcome to Student Blogs UMM. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!